Posted by: Errol Lantang | July 15, 2011

Belajar dari Alam

Alam telah lama memberi manusia inspirasi. Pesawat terbang, helikopter, kendaraan amfibi, dan kapal selam adalah beberapa contoh penemuan penting umat manusia yang terinspirasi dari keajaiban alam.

Tergerak oleh keajaiban alam tersebut, pada tahun 1997 Janine Benyus menerbitkan buku dengan judul Biomimicry: Innovation Inspired by Nature. Buku tersebut mengajak kita berpaling pada alam untuk menemukan inspirasi bagi inovasi-inovasi yang mampu berjalan selaras dengan prinsip-prinsip yang telah bekerja dengan baik selama milyaran tahun di alam. Mengapa, Benyus bertanya, kita harus memikirkan ulang bagaimana melakukan sesuatu dari awal, bila jawaban-jawaban tersebut sudah disediakan dan diuji oleh alam selama kurun waktu yang tak terbayangkan lamanya?

Ajakan Benyus tidak bertepuk sebelah tangan. Kata-katanya tidak mendarat di telinga-telinga yang tuli. Segera saja kalangan korporasi, akademis, dan militer mengundang Benyus untuk berceramah dan menjadi konsultan di tempat mereka. Salah satu klien pertama Benyus adalah Interface, sebuah perusahaan karpet di Atlanta, US.

Proses pembuatan karpet umumnya tidak bersahabat dengan lingkungan karena memakai bahan-bahan kimia dan energi yang cukup banyak, dan menghasilkan buangan limbah yang tak kalah banyaknya. Sekitar 12 tahun lalu, ketika gedung-gedung hijau mulai bermunculan di US, CEO Interface, Ray Anderson, berkomitmen untuk menjadikan perusahaannya sebagai contoh perusahaan yang peduli dengan lingkungan. Begitu perancang utama perusahaan tersebut membaca buku Benyus, mereka langsung meminta Benyus datang untuk memberikan pelatihan dan konsultasi.

Benyus kemudian membawa peserta pelatihan ke alam bebas, dan mencari jawaban yang dicari Interface di hutan. Mereka mengamati ketika sebuah daun diambil dari tanah, permukaan tanah tetap kelihatan indah. Sejauh mata memandang, terlihat keindahan yang timbul dari ketidakteraturan. Tidak ada ranting dan daun yang sama, namun setiap kombinasi yang dihasilkan alam tiada lain tiada bukan adalah keindahan dan keserasian.

Lalu apa yang dapat mereka pelajari dari alam dan diterjemahkan ke dunia bisnis, terutama bisnis karpet? Perjalanan tersebut membuat mereka memikirkan ulang bagaimana karpet dipakai. Umumnya karpet diproduksi dalam bentuk potongan besar, misalnya 3×5 meter. Setiap potong karpet memiliki pola tersendiri dan alur dari pola tersebut harus dipertimbangkan sewaktu pemasangan karpet dilakukan. Selain itu, bila ada 1 potong karpet yang harus diganti, pemilik bangunan umumnya terpaksa mengganti semuanya bila ingin menjaga keserasian warna karena warna karpet lama dan baru tidak bisa persis sama.

Dari alam, mereka menemukan inspirasi untuk membuat karpet yang polanya tidak teratur, persis seperti seperti permukaan tanah di hutan. Bahan karpet juga lebih ramah lingkungan. Pemilik bangunan bisa saja mengganti satu potongan karpet yang segera menyatu dengan karpet-karpet sebelumnya tanpa adanya perbedaan yang terlihat. Produk baru tersebut, Entropy, segera menjadibestseller.

Contoh lainnya adalah sebuah perusahaan perekat. Perusahaan tersebut ingin menghasilkan perekat yang lebih ramah lingkungan, tetapi tetap kuat. Bersama-sama dengan Benyus mereka mencari inspirasi dari alam. Mereka meneliti bagaimana bakteri menempel pada korbannya, bagaimana tanaman tertentu mampu merekat di dinding-dinding bangunan, dan bagaimana lalat bisa berjalan terbalik dengan kaki di atas. Akhirnya, mereka menemukan contoh paling tepat: cecak.

Cecak adalah contoh yang sempurna bagaimana alam bisa menghasilkan perekat yang super kuat. Di permukaan bawah kaki-kaki cecak, terdapat jutaan tonjolan kecil. Setiap tonjolan tersebut mampu menjadi penempel ke permukaan apa pun dengan mengeluarkan muatan molekul positif atau negatif. Kekuatan jutaan tonjolan tersebut membuat cecak yang tergantung di dinding mampu menahan beban sehingga 120 kg! Selain itu, ketika cecak mengangkat kakinya, meski sedang berjalan di atas pasir, kakinya akan tetap bersih. Bayangkan potensi pasar untuk produk perekat semacam itu. Selain perusahaan, dua universitas,University of California at Berkeley dan University of Manchester, sudah memproduksi perekat berdasarkan kaki cecak tersebut.

Tim riset dari University of California at Berkeley tersebut juga sudah mengembangkan mata buatan yang diinspirasi oleh mata capung dan lalat. Mata kedua jenis serangga ini terdiri dari jutaan lensa-lensa kecil yang memampukan mereka memiliki penglihatan 180 derajat. Hasil inovasi tersebut bisa dipakai untuk peralatan mata-mata atau membantu operasi pasien dengan memasukkan lensa kecil ke dalam bagian badan yang bermasalah.

Di kalangan militer di US, biomimicry telah diterima secara luas. Prinsip-prinsip yang mendasari sayap burung dan insang ikan, misalnya, telah dipelajari untuk membangun mesin-mesin perang yang mampu bermanuver dengan lebih baik. Cara bergerak lobster di dasar lautan untuk mencari makanan dipelajari untuk membangun wahana penjinak ranjau. Serbuan gerombolan lebah dan semut menghasilkan inspirasi membuat puluhan ribu tentara robot kecil yang mampu berkoordinasi satu sama lain selama operasi militer atau aktivitas pembangunan skala besar. NASA juga telah mempelajari pergerakan serangga-serangga untuk membangun wahana eksplorasi tanpa awak ke planet Mars.

Walau peniruan dari alam tersebut memang telah meluas, beberapa pakar tetap menentang pemakaian kata ‘mimicry‘ (peniruan). Mereka berpendapat, kita tidak boleh meniru mentah-mentah begitu saja dari alam. Yang diperlukan pertama-tama adalah mengerti prinsip dasar ilmiah, dan setelah itu mencari inspirasi dari alam yang sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah tersebut. Namun, kalau pun istilah biomimicry nantinya diganti, hal itu tetap tidak mengubah kenyataan bahwa kita selalu bisa menarik pelajaran dari hasil riset yang telah dilakukan selama 4 milyar tahun di muka bumi ini.

Dikutip dari http://belajardarialam.wordpress.com/2008/08/03/biomimicry-belajar-dari-alam/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: